Minggu, 22 Agustus 2010

Di Atambua, Bensin Rp 10 Ribu per Liter

Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa bensin dan minyak tanaha di Kabupaten Belu, khususnya di Atambua, sejak seminggu terakhir ini mulai mengalami kelangkaan.
Hal yang sama terjadi di Kefamenanu, ibukota kabupaten Timor Tengah Utara. Akibatnya antrian kendaraan di SPBU yang ada terlihat padat.
Pantauan Timor Express, di beberapa SPBU yang ada di Atambua, kelangkaan masih saja terjadi.

Selama sepekan terakhir antrean kenderaan roda dua dan empat di SPBU-SPBU yang ada menjadi pemandangan biasa.
Bahkan, sejak Sabtu (21/8) sampai Minggu (22/8) kemarin, empat unit SPBU yang ada di Atambua terpaksa ditutup untuk sementara karena stok bensin habis.

Sementara itu harga eceran bensin di Atambua, harganya cukup mencekik. Beberapa penjual eceran menaikan harga sampai sepuluh ribu rupiah per liter. "Selama satu minggu terkahir ini di tingkat pengecer menjualnya dengan harga setengah liter lima ribu rupiah.

Sama dengan satu liter sepuluh ribu rupiah," keluh Oris Tahao, warga Atambua di bilangan Simpang Lima.
Bukan hanya itu, kelangkaan minyak tanah di Atambua saat ini pun masih terjadi.

Warga sampai saat ini masih mengeluhkan masalah kelangkaan ini. Kelangkaan BBM, berupa bensin dan minyak pun diakui oleh Vinsen Apaula Kehi Lau, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Belu.

Vinsen kemarin, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Belu tidak boleh menutup mata terhadap masalah kelangkaan BBM berupa bensin dan minyak tanah ini. Pemerintah Kabupaten Belu melalui dinas tekhnis terkait, ujar anggota Fraksi Belu Bersatu ini, perlu melakukan pemantauan lapangan untuk segera mengatasi masalah kelangkaan ini.

"Saya kira Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas terkait dalam hal ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian perlu melakukan pemantauan lapangan. Pemerintah Kabupaten Belu ini, memang terkesan lamban dan selalu membiarkan kelangkaan ini terjadi begitu saja.

Kalau memang ada kelangkaan maka segera umumkan di SPBU-SPBU yang ada sehingga masyarakat tidak bingung, kuatir serta mengeluh," tandas Vinsen.
Vinsen dengan tegas meminta pemerintah agar tidak "cuci tangan" dengan masalah kelangkaan BBM ini.

"Pemerintah jangan lamban dan hanya mau cuci tangan di atas pengeluhan banyak orang. Segera cari jalan keluar," tegasnya.
Hal serupa terjadi juga di Kefamenanu, ibukota kabupaten TTU.

Pelayanan BBM khususnya premium dan solar di SPBU Naisleu kota Kefamenanu selama dua hari belakangan langka. Antrian kendaraan bermotor dari berbagai jenis terlihat padat di SPBU yang ada. Hal itu disebabkan adanya keterlambatan mobil tangki dari Pertamina Kupang.

Pengawas SPBU Naisleu, Finsen Taneka yang ditemui Timor Express tadi malam membenarkan peristiwa tersendatnya pelayanan BBM kepada konsumen di wilayah kabupaten TTU dua hari terakhir.

"Kapal tanker minyak katanya terlambat sandar di pelabuhan sehingga mobil tangki yang selama ini datang antar minyak juga terlambat," jelasnya di dampingi isterinya di kediaman mereka tadi malam.

Meski demikian volume pelayanan BBM di SPBU Naisleu kata Finsen tetap stabil bahkan sedikit meningkat dari biasanya. Diakui selama dua hari belakangan sejak Jumat (20/8) hingga Sabtu kemarin dulu BBM yang masuk ke tangki SPBU Naisleu mencapai 45 ton.

"Hari Jumat sore kami dapat jatah 25 ton dan Sabtu 20 ton," jelasnya.
Meski demikian stock BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama dua hari lalu tetap tidak mencukupi.

Ini disebabkan oleh lambatnya pelayanan mobil tangki Pertamina di SPBU yang bersangkutan.
"Biasanya minyak belum habis di tangki mobil tanki sudah datang antar, jadi tangki selalu terisi minyak sehingga pelayanan masyarakat tetap normal," jelas pria berdarah Tionghoa itu.

Diakui pelayanan BBM kepada warga yang menggunakan jeriken maupun media lainya tetap dilakukan selama ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Langkah ini tetap dilakukan mengingat aneka alasan yang disampaikan konsumen ketika berhadapan dengan pegawai pengisi BBM di SPBU.

"Kalau kami tidak layani mereka marah, katanya mau pakai untuk sensor, genzet, tracktor dan lain-lain. Jadi kami layani saja daripada terjadi konflik mulut atau bahkan fisik dengan masyarakat," aku Finsen.

Untuk mengurangi macetnya pelayanan BBM kepada masyarakat menurut dia, mulai pagi ini pihaknya tidak akan melayani pembeli yang menggunakan jeriken. Alasanya selain jatah BBM yang akan diantar tadi malam lebih sedikit juga untuk menghindari terjadi penumpukan massa di sekitar SPBU Naislue.

"Katanya malam ini Pertamina hanya antar 10 ton jadi besok pagi kami hanya layani kendaraan saja," katanya.(onq/ogi)
Sumber: http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=40788

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar